Pertandingan Persiba dan Persija di Copa Dji Sam Soe telah berlalu 2 minggu lalu, tapi kemarahan dalam hatiku terhadap seorang Ponaryo Astaman belum berlalu.
Pertandingan Persiba Vs Persija sendiri disiarkan secara langsung dan dilihat oleh seluruh penduduk Indonesia. Jadi silahkan anda nilai sendiri tulisan saya.
Ponaryo pernah ditaksir oleh manajemen PERSIBA untuk bergabung bbrp musim yang lalu. Proses perekrutan batal karena ponaryo meminta harga yang tinggi dan pengurus PERSIBA tidak menyanggupinya.
Pada waktu itu Pengurus sempat mengeluarkan statement dikoran lokal bahwa Ponaryo sudah lupa dengan kota Balikpapan dan lebih mementingkan duit. Pada waktu itu saya sempat membuat posting juga yang memprotes pengurus karena bersikap tidak profesional, jangan hanya karena Ponaryo kelahiran Balikpapan terus bisa minta discount seenaknya.
Menurus saya wajar saja Ponaryo meminta harga yang tinggi karena sekarang adalah masa emas dirinya, tentunya sayang kalau dirinya harus dihargai murah. Pemain sepakbola toh hanya punya masa yang singkat sekali (10 tahun) untuk memperoleh penghasilan yang diharapkan dapat jadi modal bagi sisa hidupnya jika tidak bermain bola lagi.
Pendekatan para pengurus yang memang Preman memang menurut saya wajar saja menimbulkan sakit hati Ponaryo Astaman.
Respon ponaryo yang sakit hati terlihat jelas selama 2 musim ini. dan yang paling akhir adalah dikartumerahkannya ponaryo di pertandingan Copa kemarin. Penulis tidak mengerti alasan Ponaryo untuk emosi padahal klubnya toh sudah pasti melenggang ke putaran selanjutnya copa…
Pemain persiba tidak terlihat terlalu ngotot untuk mengejar 4 gol…karena secara kualitas jauh banget dengan Persija. Dan kemenangan 2-0 pun rasanya cukup menggembirakan pemain persiba dan penonton. Tetapi sungguh aneh Pemain Persija dibabak kedua begitu emosional dan rela mendapat kartu merah hingga 2 kali.
Ponaryo sendiri sebelum mendapat kartu merah beberapa kali melakukan pelanggaran keras dipinggir lapangan yang tidak terliput oleh kamera TV. Yang bikin marah penonton adalah mukanya yang sengaja terlihat marah tersebut dan memandang penonton dengan ekspresi tidak senang. Selepas mendapat kartu merah Ponaryo pun memprovokasi penonton yang mengejeknya dengan bertingkah seperti dirigen. Aksi ponaryo dalam pertandingan kemarin membuat para penonton berteriak ” pengkhianat”.
Ponaryo boleh tidak suka dengan pengurus PErsiba yang memang masih dikuasai para Preman dan negosiasinya pun masih gaya preman… tapi mbok ya…sama pendukung dan penduduk kota balikpapan jangan gitu…
kita-kita ini masih mendukung anda dan akan hormat dengan segala kesportifan Ponaryo. Buat para pengurus PERSIBA malu dengan bertindak sportif dan menunjukkan pribadi yang elegan dilapangan.
Selamat tinggal Ponaryo !!!